Berdakwah lah Dgn Hikmah dan Pelajaran Yang Baik, Jika Diajak Berdebat, Maka Bantahlah Dengan Wajah Berseri, Lemah Lembut Dan Bahasa Yang Sopan

Allah berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" (An-Nahl 16:125)

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini dalam tafsir nya dengan mengatakan: "Allah swt berfirman memerintahkan kepada RasulNya Muhammad saw untuk menyeru manusia ke jalan Allah swt dengan hikmah"

Ibnu Jarir berkata tentang "hikmah" iaitu Al-Quran dan hadis yg Allah swt turunkan kepadanya". "Dan pelajaran yg baik", termasuk peringatan, teguran dan kejadian2 yg telah dialami oleh manusia (Ath-Thabari (XVII/321). Rasulullah saw diminta utk mengingatkan mereka akan hal itu, supaya mereka lebih berhati2 dan berwaspada dgn azab Allah swt.

Firman Allah swt yg bermaksud "Dan bantahlah mereka dengan cara yg baik". Maksudnya adalah jika ada diantara mereka yg mengajak diskusi dan berdebat, maka hendaklah membantah mereka dengan wajah yg berseri, lemah lembut dan bahasa yg sopan, sebagaimana yg difirman kan oleh Allah swt dlm Al-Quran:

"Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri."(Al-Ankabuut 29:46)

Oleh kerana itu, Allah swt memerintahkan RasulNya agar lemah lembut, sebagaimana perintahNya kepada Nabi Musa dan Nabi Harun tatkala Allah mengutus mereka pada Fir'aun, yg diabadikan dalam FirmanNya:

"maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Thahaa 20:44)


Dalam Hadis juga Nabi saw ada menceritakan berkenaan penting nya sifat lemah lembut. Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, melainkan akan membuatnya lebih bagus dan tidaklah kelembutan tercabut darinya, melainkan akan membuatnya buruk" (HR Muslim (2594) dari 'Aisyah r.a)

Firman Allah swt selanjutnya: "Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini dengan berkata: "Maksudnya, Allah swt Maha Mengetahui siapa diantara mereka yg selamat dan yg celaka, semuanya telah ditulis dan dia tetapkan. Maka tugasmu adalah menyeru mereka, janganlah kamu binasa kerana sedih terhadap mereka yg sesat. Sesungguhnya, bukan kamu yg memberi hidayah kepada mereka. Kamu hanyalah memberi peringatan atau menyampaikan sahaja. Kami lah yg akan menghisab mereka semua.

Lakukanlah Amalan Yg Soleh, Nescaya Kamu Dikurniakan oleh Allah Kehidupan Yang Baik Serta Kebahagiaan Didunia dan Diakhirat

Allah berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (An-Nahl 16:97)

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini dalam Tafsir nya dengan mengatakan: "Ayat diatas merupakan janji dari Allah swt bg orang2 yg beramal soleh, baik laki2 maupun wanita dari keturunan Bani Adam. Amal Soleh iaitu perbuatan yang mengikuti petunjuk Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Jika hati mereka beriman kepada Allah swt dan rasulNya, dan amal soleh yg diperintahkan itu betul2 disyariatkan oleh Allah swt, maka didunia, Allah akan berikan kehidupan yang baik, sedangkan diakhirat, Allah akan membalas nya dengan balasa yg lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Kehidupan yg baik itu mencakup ketenteraman batin dalam setiap isu kehidupan"

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas r.a dan sejumlah ulama' lainnya, bahawa mereka menafsirkan "kehidupan yang baik" tersebut dengan rezeki yg halal.

Dan diriwayatkan pula oleh Ali bin Abi Talib r.a, bahawa ia menafsirkan "kehidupan yang baik" dengan qana'ah(merasa puas). Begitu pula yg dikatakan oleh Ibnu 'Abbas pada riwayat yang lain, juga 'Ikrimah Wahb bin Munabbih.

'Ali bin Abi Talhah berkata: "Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas r.a, bahawa yg dimaksudkan dgn kehidupan yg baik adalah kebahagiaan.

Al-Hasan al-Basri, Mujahid dan Qatadah berkata. "Kehidupan yg baik hanya dirasakan disyurga". Adh-Dhahhak berkata, "Yang dimaksudkan dgn kehidupan yang baik adalah rezeki yang halal dan dapat menunaikan ibadah selama didunia". Adh-Dhahhak juga mengatakan kehidupan yang baik adalah ketika melaksanakan keta'atan dan merasa tenteram dengan nya.

Namun pendapat yg lebih sahih tentang "kehidupan yang baik" ialah yang mencakup semua yg disebutkan diatas sebagaimana yg disebutkan didalam hadis yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari 'Abdullah bin 'Amr r.a, bahawasa nya,

Rasulullah saw bersabda: "Sunnguh telah beruntung org yg berserah diri kepada Allah swt, lalu diberikan rezeki yg cukup (tidak berlebihan), sedang hatinya qana'ah (rela dan menerima) terhadap apa yg telah diberikan Allah swt" (HR Muslim (II/730))

Wallahua'lam..

Rujukan:

Shahih Tafsir Ibnu Kathir,Tafsir Surah An-Nahl ayat 97,Terbitan Pustaka Ibnu Kathir.

Berbuat lah Amal Dengan Ikhlas Dan Bukan Kerana Dunia atau Riya’, Nescaya Kamu Mendapat Kebaikan Dunia dan Pahala Akhirat.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud 11:15-16)

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya yg paling aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil, riya’. Pada hari kiamat , ketika member balasan manusia atas perbuatannya. Allah berfirman: “Pergilah kalian pada org2 yg kalian tujukan amalan mu kepada mereka didunia. Lihatlah , apakah engkau dapati balasan disisi mereka?” (HR Ahmad, Hadis Sahih)

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a mengenai ayat ini, ia berkata: “Org2 yg gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka didunia dan mereka tidak dizalimi sedikitpun. Barangsiapa mengerjakan amal soleh dengan tujuan utk mendapat kesenangan dunia, baik puasa, salat tahajjud pada malam hari, dan ia melakukannya semata2 utk tujuan duniawi, maka Allah swt berfirman: “Berikanlah kepadanya apa yang ia cari didunia. Dan sia2 lah amal yg ia kerjakan demi meraih kesenangan dunia, sedangkan diakhirat ia termasuk org2 yg rugi”. (Ath Thabari (XV/263))

Qatadah berkata: “Barangsiapa yg dunia menjadi perhatian , niat dan tujuannya, maka Allah swt akan membalas kebaikannya didunia . Lalu diakhirat, ia tidak mendapat balasan kebaikan sedikitpun. Sedangkan org mukmin, ia akan mendapatkan balasan kebaikannya didunia, juga pahalanya diakhirat” (Ath Thabari (XV/264))

Bersabarlah dan Jangan Marah, kerana ia kurnia paling baik dari Allah dan bagimu pahala yang tanpa batas

Allah berfirman: "..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" (Az-Zumar 39:10)

Dalam Tafsir Ibnu Kathir, ketika mengatakan tentang ayat ini "Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas":

Imam al-Auza'i berkata: "Tidak dibuat timbangan dan takaran bagi mereka, melainkan dituangkan tanpa ukuran"

As-Suddi berkata: "Yakni di dalam Syurga"(Ath-Thabari (XXI/270)

Dari Abu Hurairah r.a, bahawasanya seseorang berkata kepada Nabi saw: "Wasiatilah saya" Beliau bersabda: "Jangan Marah" Beliau mengulang-ulang berkali-kali, beliau bersabda: "Jangan Marah" (HR Bukhari)

Dari Abu Malik Al-Harits Ibn 'Ashim Al-Asy'ari r.a, berkata: Rasulullah saw bersabda: "Bersuci itu adalah separuh iman, 'Alhamdulillah' memenuhi timbangan, 'Subhanallah Wal Hamdulillah' kedua nya memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi, sedangkan solat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah pelita, Al-Quran adalah hujah bagimu atau atasmu. Semua orang berangkat pagi, menjual dirinya maka dia memerdekakannya(dari azab Allah) atau menghancurkannya(menjauhkan diri dari hamparan redha Allah swt)" (HR Muslim)

Dari Abu Said Ibn Malik Ibn Sinan Al-Khadri r.a bahawasanya ada beberapa org dari kaum Anshar meminta kepada Nabi saw maka beliau pun memberinya. Kemudian mereka meminta lagi dan beliau tetap memberinya, hingga habis la apa yang ada pada diri beliau. Maka beliau bersabda kepada mereka ketika beliau telah menginfaqkan segala sesuatu yang ditangannya: "Apa saja kebaikan yang ada padaku maka aku tidak akan menimbunnya jauh dari kalian. Barangsiapa yang bersikap iffah(tidak meminta-minta) maka Allah akan menjadikannya org yg bersih. Barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan menjadikannya kaya dan barangsiapa yang berusaha utk sabar maka Allah akan menjadikannya seorg penyabar. Tidak ada org yg diberi kurnia yang paling baik dan paling luas daripada kesabaran" (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Yahya Shuaib Ibn Sinan r.a, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Sungguh menghairankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh sesiapa pun kecuali org mukmin. Jika dia diberi sesuatu yg menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu mudharat dia bersikap sabar, maka menjadi baik baginya" (HR Muslim)

Dari 'Aisyah r.a, dia bertanya kepada Rasulullah saw tentang Tha'un. Maka beliau menjawab nya bahawa ia adalah sebuah azab yang dikirim oleh Allah kepada orang2 yang Dia kehendaki, Maka Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin, tidak ada seorg hamba yg tinggal di daerah Tha'un dan kemudian dia tetap tinggal dinegerinya dengan sabar dan mengharap pahala, serta mengetahui bahawa tidak akan ada yang menimpanya melainkan apa yang telah ditentukan oleh Allah swt untuknya, kecuali baginya adalah seperti pahala orang yg syahid" (HR Bukhari)

Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah r.a dari Nabi saw, beliau bersabda: "Seorang Muslim tidak ditimpa oleh rasa letih, penyakit, gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundaha, hingga duri yang tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebahagian dari kesalahan-kesalahannya" (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata: Rasulullah :saw bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah swt, maka Dia akan menimpakan(musibah) kepadanya"
(HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah saw bersabda: "Bukanlah org yg kuat itu kerana selalu (menang) gulat(pertarungan), akan tetapi orang kuat adalah org yg mampu mengendalikan nafsunya ketika marah" (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Mu'az Ibn Anas r.a, bahawasanya Nabi saw bersabda: "Barangsiapa meredam amarah padahal dia mampu melampiaskannya(melepaskannya), Maka Allah memanggilnya dihadapan para makhluk dihari kiamat, Dia menyuruhnya memilih dari Para Bidadari apa yang dia kehendaki" (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi, dia berkata: Hadis Hasan)

Tutuplah aurat mu dengan sempurna serta menutupi dada,dan Berjalanlah dengan cara muslimah beriman, kerana ia akan lebih memelihara dirimu

Allah berfirman: "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" (An-Nuur 24:31)

Rumusan Ayat

Ibnu Kathir mengatakan: "Ini merupakan perintah Ilahi yg ditujukan kepada segenap wanita2 mukmin sekaligus ketetapanNya yg diarahkan utk menjunjung tinggi kehormatan suami2 mereka, komuniti hamba2 yg beriman. Perintah ini berfungsi utk membezakan wanita mukmin dari wanita jahiliyyah dan perbuatan2 perempuan musyrik"

Asbab Penurunan Ayat

Asbab pernurunan ayat ini adalah seperti yg disebutkan oleh Muqatil bin Hayyan, Muqatil berkata, "telah sampai kepada kami, bahwa Jabil bin Abdillah al-Anshari telah bercerita, bahawa 'Asma binti Mursyidah dahulu pernah berada disebuah tempat miliknya dari Bani Haritsah. Para wanita Bani Haritsah kerap masuk kerumahnya tanpa mengenakan kain penutup badan hingga nampaklah gelang kaki yg menempel pada kaki2 mereka. Nampak pula dada2 mereka dan rambut mereka yg dipintal. 'Asma berkata, "Bertapa buruknya kebiasaan mereka ini". Kemudian Allah berfirman: "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya" hingga akhir ayat.

Tafsiran Ayat - Hukum HIJAB

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya" dengan mengatakan:

"Menjaga pandangan dari hal2 yg diharamkan oleh Allah swt, iaitu memandang kepada laki2 lain selain suami mereka. Selain itu ulama' menetapkan kebolehan wanita melihat laki2 lain jika tidak menimbulkan syahwat. Dasar hujahnya adalah Hadis dari Kitab As-Shahih bahawa Rasulullah saw melihat org Habsyi memainkan tombak mereka didalam masjid pada hari raya Eid. Sementara Aisyah r.a Ummul Mukminin juga melihat mereka dari belakang Nabi saw, dan beliau menutup Aisyah dari pandangan mereka. 'Aisyah pun melihat mereka sampai ia merasa bosan dan kembali kerumah" (HR Bukhari no 454, Dalam Sahih Al-Bukhari)

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "dan memelihara kemaluannya" dengan mengatakan:

"Sa'id bin Jubair berkata, 'maksud memelihara kemaluan nya dari tindakan perzinaan', Abul 'Aliyah berkata, 'Seluruh ayat yg diturunkan di dalam Al-Quran yg mneyebut tntg memelihara kemaluan , adalah memelihara kemaluan dari perbuatan zina, terkecuali ayat ini, kerana yg dimaksudkan disini adalah memelihara kemaluan agar jangan terlihat oleh sesiapa pun'" (Ath-Thabari (XIX/154)

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya(auratnya), kecuali yang (biasa) nampak dari padanya" dengan mengatakan:

"Maksudnya jgn lah kalian (wanita2 mukmin) menampakkan satu pun perhiasan kalian kepada laki2 yg bukan mahram, kecuali perhiasan yg tidak bisa disembunyikan. Ibnu Mas'ud berkata, 'Maksudnya seperti selendang dan kain baju'(Ath-Thabari (XIX/156), Ini bererti, kain yg biasa dikenakan oleh wanit2 arab, seperti kain penutup kepala dan baju yg menutupi badan, pendapat yg senada dgn yg dikemukakan oleh Ibnu Mas'ud adalah seperti yg diungkapkan oleh Al-Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, Abul Jauza', Ibrahim an-Nakha'i, dan lain2" (Ath-Thabari (XIX/156)

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya" dengan mengatakan:

"Maksudnya kain kerudung(tudung) yg memanjang melebihi dada hingga dapat menutupi dada dan tulang dada. Aturan ini dibuat agar para wanita mukmin memiliki perbezaan yg jauh dengan kebiasaan wanita jahiliyyah, kerana wanita jahiliyyah tidak pernah melakukan apa yg diperintahkan oleh Allah tadi. Bahkan mereka kerap lewat dihadapan lelaki dengan menampakkan dada, tidak ditutp dgn apa2. Terkadang mereka sengaja menampakkan leher, jambul rambut dan anting2 telinga mereka. Sa'id bin Jubair berkata ayat ini bermaksud, 'ertinya menutup kain kerudung(tudung) kedada dan bahagian atas dada hingga (dibahagian itu) dan tidak ada satu pun dapat dilihat'" (Ad-Durrul Mantsuur (VI/182)

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka," dengan mengatakan:

"Org yg disebutkan tadi adalah mahram bagi mereka dan dihalalkan bagi mereka utk menampakkan perhiasan dihadapan mereka, dengan syarat tidak bersolek(tabarruj) dan berpenampilan seronok(mengghairahkan), Ibnu Mundzir meriwayatkan atsar (kata2 sahabat) yg bersumber dari Ikrimah, Ia(Ikrimah) berkata, 'Pada ayat ini Allah tidak menyebutkan bapa saudara dari pihak bapak atau daru pihak ibu. kerana hukum bapa saudara dari pihak bapa atau dari pihak ibu mengikuti sepupu. Dengan demikian mereka tidak boleh melepaskan kerudung(tudung) ketika berhadapan dengan bapa saudara dari pihak bapa atau dari pihak ibu'(Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah (IV/338), Adapaun suami (tentu dibolehkan), sebab suami perilaku isteri dalam menjaga kehormatanya adalah bertujuan utk berbakti pada suami. Dengan demikian, isteri boleh melakukan apa sahaja dihadapan suaminya, selama tidak ada laki2 lain bersamanya"


Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "atau wanita-wanita islam" dengan mengatakan:

"maksudnya, mereka boleh menampakkan auratnya dihadapan para wanita muslim, tidak dihadapan wanita2 kafir dzimmi(org kafir yg menetap dinegara islam, mereka wajib mematuhi undang2 islam dan membayar jizyah). Alasan larangan menampakkan aurat pada wanita2 kafir dzimmi ialah agar mereka tidak menceritakan rahsia2 wanita muslim yg mereka lihat pada suami mereka. Meskipun kemungkinan ini boleh juga terjadi pada wanita2 muslim yg lain, namun kekhawatiran pada wanita2 kafir lebih membahayakan, kerana mereka tidak memiliki aturan hukum yg melarang utk menceritakan rahsia wanita lain kepada suami mereka. Lain halnya dgn wanita muslimah, mereka sgt paham bahawa menceritakan kemolekan tubuh atau rahsia pada wanita lain kepada suaminya sendiri adalah hal yg diharamkan. Mengingat keharaman tersebut, mereka pun akan menjauhi darinya. Rasulullah saw bersabda: "Seorg wanita tidak boleh melihat tubuh wanita lain, kerana ia akan menceritakan(kemolekan) temannya kepada suaminya, seakan suaminya langsung melihat tubuh temannya" (HR Bukhari dan Muslim, dari kitab Ash-Shahiih dari Ibnu Mas'ud dari Fathul Bari (IX/250, no 5241))"

Tafsiran Ayat - Etika Berjalan bagi Seorg Wanita

Ibnu Kathir menafsirkan ayat ini "Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan" dengan mengatakan:

"Para wanita jahiliyyah, bila berjalan dgn gelang kakinya, mereka menghentak2 kan kaki mereka, ke tanah, agar para laki2 mendengar gemencing nya. Maka Allah swt melarang wanita2 mukmin melakukan hal tersebut. Demikian pula bila perhiasan yg mereka kene kan tidak nampak, mereka pun akan menggerak2 kannya, agar perhiasan yg tersembunyi itu nampak. Perilaku seperti itu terlarang"

"Dari ayat ini lahirlah larangan memakai wangi wangian bagi wanita ketika hendak keluar rumah, kerana hidung laki2 nantinya dapat mencium aroma wangi tubuhnya. Abu 'Isa at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis yg bersumber dari Abu Musa al-Asy'ari. Ia mengatakan bahawa Rasulullah saw bersabda: "Setiap mata (yg melihat dengan syahwat yg tidak halal ia lihat), beerti mata tersebut melakukan perzinaan. Dan wanita, bila memakai wangi wangian, kemudian ia lewat di sebuah tempat perkumpulan, maka ia telah melakukan ini dan itu" (Atd-Tirmidzi berkata) yakni telah menyebab kan mata laki2 berzina, kerana bau harumanya menyebabkan laki2 tertarik memandangnya" (HR Tirmidzi, Dalam perbahasan ini, juga ada hadis dari Abu Hurairah r.a, Hadis ini derajatnya Hasan shahih dalam Tuhfattul Ahwadzi (VIII/70), no 2786, juga Riwayat Abu Dawud, dalam Sunan Abu Daud, (IV/400) no 4173)"

"Ayat ini juga melahirkan hukum larangan bagi wanita-wanita muslim berjalan ditengah2 jalan, kerana pada tindakan itu terdapat unsur tabarruj(menampakkan aurat dan kecantikan tubuh).Abu Dawud meriwayatkan Hadis yg sumbernya dari Abu Usaid bahawa ia mendengar Rasulullah saw bersabda pada para wanita. Saat itu beliau berada diluar masjid menyaksikan rombongan laki2 dan wanita bergerombolan dijalan. Nabi saw bersabda: "Berjalanlah dibelakang!kerana kalian tidak boleh berjalan ditengah jalan. Kalian harus berjalan ditepi jalan", Oleh itu para sahabat wanita berjalan (seakan2) menempelkan tubuh kedinding jalan, hingga baju2 mereka tersangkut didinding" (Abu Dawud (V/422)

Sumber Rujukan : Tafsir Ibnu Kathir
Terbitan : Pustaka Ibnu Kathir
Rujukan : Jilid 6
M/S : 372-381

Tahanlah dan Tundukkan lah Pandangan mu wahai Mukminin, kerana Allah Maha Mengetahui Apa Yang Kamu Perbuat

Allah Berfirman: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (An-Nuur 24:30)

Ibnu Kathir menafsirkan: "Ayat ini mengandungi perintah dari Allah swt kepada para hamba-Nya yang beriman agar mereka menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Mereka jangan sekali-kali melihat kecuali hanya kepada sesuatu yg boleh dilihat. Mereka hendaknya menjaga pandangan merekadari segala sesuatu yang berbau maksiat.Bila kebetulan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan secara tidak sengaja, maka dengan hendaklah mereka cepat-cepat memalingkan pandangannya kepada objek lain yg tidak diharamkan memandangnya.

Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya ash-Shahiih dari Jarir bin 'Abdillah al-Bajali. Ia berkata: "Aku bertanya kepada Nabi saw tentang pandangan yang tiba2 dan tidak dilakukan dengan sengaja. Beliau memerintahkan aku agar segera memalingkan pandanganku" (HR Muslim (III/1699), no 2159)

Termaktub dalam kitab ash-Shahiih dari Abu Sa'id, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: "'Jauhi duduk dipinggir jalan'. Para Sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah saw,(Bagaimana jika) kami mesti memiliki tempat seperti itu utk bercakap-cakap'. Rasullulah saw bersabda, 'Jika kalian keberatan melakukan itu, maka berilah hak kepada jalan(yang kamu duduki)'. Mereka bertanya, 'Apakah bentuk dari hak jalan wahai Rasulullah!'. Beliau menjawab, 'Menjaga pandangan, membuang benda2 yang membahayakan, menjawab salam, menyuruh pada kebaikan dan melarang melakukan kemungkaran'" (HR Bukhari dalam Fathul Bari (V/134), no 2465)

Abul Qasim al-Baghawi meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Umamah, ia berkata, aku memdengar Rasulullah saw bersabda: "Berikan aku jaminan(agar kalian), melakukan enam perkara,niscaya aku akan menjamin kalian masuk syurga, (1)apabila salah seorg dari kalian berkata-kata, maka janganlah berdusta,(2)Apabila diberi amanah, maka janganlah mengingkarinya(khianat)(3)Apabila berjanji, ia tidak melanggarnya.(4)Hendaklah kalian menjaga pandangan,(5)hendaklah kalian memelihara tangan dan (6)hendaklah kalian memelihara kemaluan" (Taarikh al-Khathiib (VII/392) al-Mu'jamul Kabiir (VIII/314), Hadis ini Hasan, lihat Shahiihul Jaami' (no 1018, 1225, dan 2978))

Termaktub dalam Kitab Ash-Shahiihah dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: "Telah ditentukan (ditakdirkan) bagi anak Adam bahagian (dosa) yang disebabkan oleh zina. Ia tidak diragukan lagi pasti akan melakukannya. Adapun zina yg dilakukan oleh kedua mata adlah melihat(hal2 yang diharamkan). Zina yang dilakukan oleh lidah adlah berbicara(yang haram). Zina yang dilakukan oleh kedua tangan adalah mengambil(meraba atau menindak dengan kekerasan). Zina yang dilakukan oleh kedua kaki adalah melangkah. Sementara hati selalu mengharap dan menginginkan. Kemaluan bisa saja membenarkannya(dengan melakukan zina yang sesungguhnya) dan bisa pula mendustakannya(dengan tidak melakukan hal itu)" (HR Bukhari dan Muslim, Fat-hul Baari (XI/28) no 6343, Muslim (IV/2047) no 2657)

Bacalah, Fahamilah dan Amalkanlah Al-Quran Kerana Ia Penjelasan Yang Sempurna Dan Amalan Yang Akan Meningkatkan Darjatmu

(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 14:52)

Ibnu Kathir menyatakan : "Maksud ayat ini adalah, Al-Quran merupakan penjelasan yang sempurna untuk seluruh makhluk, baik jin, mahupun manusia.

Diantara hadis nabi saw yg menerangkan tentang keutamaan membaca Al-Quran dan mengamalkan nya adalah seperti berikut:

Dari 'Abdullah bin 'Amr, dari Nabi saw bersabda: "Akan dikatakan kepada orang yang senantiasa membaca dan mengamalkan Al-Quran: 'Baca dan naiklah, bacalah dengan perlahan sebagaimana engkau membaca nya didunia.Sesungguh nye darjatmu berada pada akhir ayat yang engkau baca" (HR Tirmidzi dalam Jami'iul Tirmidzi (V/162, no 2914)dengan Albani mengatakan ia 'Hasan Sahih',lihat Sahiihut Tirmidzi, Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam Sunnan Abu Dawud (II/152, no 1464) dan Ahmad dalam Musnad Ahmad(II/192))

Dari 'Aisyah bahawa Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Al-Quran dan pandai membacanya, maka ia akan bersama para Malaikat utusan yang mulia dan penuh ketaatan.Dan orang yang membaca Al-Quran dengan tersekat-sekat dan ia merasa sulit membaca nya, maka ia mendapat dua balasan pahala" (HR Bukhari dalam Shahihul Bukhari (VIII/291 no 4937) dan Muslim(I/550 no 798))

Dari Abu Hurairah r.a bahawa Nabi saw bersabda: "Al-Quran akan datang pada hari Kiamat, lalu berkata: 'Ya Allah, pakaikanlah kepada nya (yakni pembacanya)perhiasan', Lalu ia pun dipakaikan mahkota kemuliaan. Kemudian, Al-Quran berkata: 'Ya Allah, tambahkan lah untuk nya'. Lalu ia dipakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian, Al-Quran berkata lagi: 'Ya Allah, redhailah dirinya', Lalu dikatakan kepada orang tersebut: 'Bacalah dan naiklah!', Dan, ditambahkan satu kebaikan untuk nya pada setiap ayat yang dibacanya" (HR At-Tirmidzi, dalam Jami'ut Tirmidzi (V/163 no 2915), Tuhfatul Ahwadzi (X/227-228), Hadis ini disahihkan oleh Albani dalam Sahihtul Tirmidzi (III/8))

Dari Jabir Rasulullah saw bersabda: "Al-Quran akan memberi syafaat (dengan izin Allah) dan ia merupakan lawan berdebat yang jujur. Barangsiapa menjadikannya sebagai pemimpin,nescaya ia akan menghantarnya ke syurga. Namun, barangsiapa yang menjadikan nya berada dibelakang punggung nya(meninggalkan nya) nescaya ia akan mengiring nya ke Neraka" (HR Ibnu Hibban, dalam Shahih nya (no 4443), dan Albani berkata Shahih)